Kehidupan kita di dunia sangat-sangat
singkat, dibandingkan dengan kehidupan setelah kematian yang begitu lama.
فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“…dalam sehari (di akhirat) yang setara
dengan lima puluh ribu tahun.” (Sura Al-Ma’arij, ayat: 4)
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ۗ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا
“Di manapun kamu berada, kematian akan
mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan
kukuh….” (Surat An-Nisa’, Ayat: 78)
Alam
Barzakh adalah alam antara (dunia dan akhirat). Namun ia termasuk alam akhirat.
Sekalipun
mayat tidak dikubur, ia tetap masuk ke alam Barzakh. Maka ruh gentayangan di
alam dunia itu tidak ada. Jika sudah mati, langsung masuk ke alam Barzakh.
Orang
yang mati syahid tidak ditanya malaikat di alam kubur. Karena mereka telah
diuji di bawah kilatan pedang. Adapun orang mukmin yang lain, tetap ditanya dan
diuji oleh malaikat Munkar dan Nakir.
Orang
kafir dan munafik tidak akan mampu menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir.
Sekalipun mereka hafal jawabannya. Sebab jawabannya hanya bisa dengan keimanan
(Tauhid).
Alam
kematian adalah perkara ghaib. Jangankan alam kematian, alam tidur saja tidak
bisa dijelaskan.
Azab di
alam Barzakh itu hak. Ada orang yang diazab di alam kuburnya sampai hari kiamat
tiba.
Alam
Barzakh adalah alam tersendiri. Tidak bisa diqiyaskan dengan alam dunia. Maka
tidak boleh menolak kejadian-kejadian luar biasa di alam Barzakh hanya karena
tidak masuk akal jika ditimbang secara akal dengan hukum di dunia.
Latihlah
diri untuk biasa berkhalwat bersendiri dengan Allah dalam ketaatan. Seperti;
shalat malam, baca Qur’an ketika sendiri, i’tikaf, dll. Karena di alam Barzakh
kita akan hidup sendiri. Inilah hikmah Allah mensyariatkan ibadah i’tikaf.
Faidah ini disampaikan oleh Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathooiful Ma’aarif
Tiupan
sangkakala pertama (an-Nafkhotul Uulaa), menjadikan segenap makhluk di bumi
terhentak. Dan alam ini dihancurkan oleh Allah.
Tiupan
sangkakala kedua (an-Nafkhotuts Tsaniyah). Allah menghidupkan makhluk dan
membangkitkan mereka dari kubur.
Kemudian
manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar. Menurut pendapat yg lebih kuat; Padang
Mahsyar adalah bumi yang telah dirubah dan didatarkan oleh Allah. Ketika itu
bumi akan bersaksi atas amalan manusia yang dilakukan di atasnya, yang shalih
maupun yang buruk.
Di
akhirat, orang-orang yang beramal shalih akan dibanggakan dan disohorkan oleh
Allah. Orang yang berpuasa nafasnya harum semerbak, muaddzin lehernya terlihat
paling tinggi, orang yang saling mencintai karena Allah juga akan dipanggil oleh
Allah, mereka semua akan dimuliakan dan dibanggakan oleh Allah di hadapan semua
makhluk.
Termasuk
juga pelaku maksiat, akan dipermalukan oleh Allah; yang suka minta-minta akan
bangkit hanya dengan tengkorak tanpa daging di mukanya. Yang poligami tapi
tidak adil, akan berjalan miring, dll.
Kelak
akan ada 7 golongan yang akan dinaungi oleh Allah;
1. imam
yang adil, 2. pemuda yang hidupnya untuk beribadah kepada Allah, 3.
seorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid, 4. dua orang yang
saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah
karena Allah, 5. seorang laki-laki yang diajak wanita yang kaya dan
cantik untuk berzina, maka laki-laki itu berkata : aku takut kepada
Allah, 6. seorang yang bersodaqoh dengan sembunyi-sembunyi sampai tangan
kirinya tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanannya, 7. seorang yang berdzikir
kepada Allah sendirian sehingga matanya meneteskan air mata. [al-Bukhari –
Muslim]
Jumhur
ulama mengatakan; Haudh (Telaga) Nabi letaknya di Padang Mahsyar. Imam
al-Bukhari lebih condong pada pendapat bahwa Haudh Nabi terletak setelah
ash-Shirooth.
Manusia
sangat kepanasan di Padang Mahsyar. Maka mereka mendatangi para Nabi untuk
meminta syafaat agar Allah segera memulai persidangan.
Adam
‘alaihissalaam mengatakan kepada mereka yang minta syafaat; nafsy…nafsy…,
maknanya adalah; “saya juga butuh syafaat”.
Semua
Nabi yang dimintai syafaat tidak PD meminta syafaat, karena pernah berbuat
kesalahan. Padahal kesalahan mereka sudah dimaafkan oleh Allah.
Pada saat
itulah syafaat yang agung diberikan kepada Nabi. Lantas Allah datang disambut
oleh para malaikat ber-shaf-shaf untuk memulai persidangan.
Hewan-hewan
juga akan dibangkitkan dan dikumpulkan untuk menjalani qisos. Setelah di-qisos,
Allah jadikan mereka tanah semuanya; “kuuny turooban” perintah Allah kepada
mereka.
Allah tegakkan
qisos pada hewan untuk menunjukkan kepada manusia; “kalau binatang saja
di-qisos oleh Allah dengan seadil-adilnya, maka apalagi manusia…??”
Kemudian
Allah tegakkan hisab. Amal kita akan diaudit. Hisab ada dua; hisaaban yasiiro,
dan hisaab ma’al munaaqosyah.
Hisaab
yasiir adalah hisab yang ringan, Allah banyak menutupi aib dan memaafkan
catatan dosa hamba.
Hisaab
ma’al munaaqosyah; adalah pengecekan amal secara detail, aib diungkap, dan
hamba yang berdosa dipermalukan, lalu pad akhirnya dimasukkan ke neraka.
Kemudian
manusia akan menerima kitab atau Rapor catatan amalnya masing-masing.
Kemudian
tibalah saat penimbangan amal (Miizaan). Yang ditimbang adalah amal shalih. Ada
juga hadits yang menyebutkan bahwa yang ditimbang adalah badan manusia itu
sendiri.
Miizaan
punya 2 sifat; adil, dan detail. Miizaan tersebut akan menimbang semua amal
sekecil apapun itu, dan akan ditimbang dengan adil, sekecil apapun kebaikan,
tidak akan ada yang sia-sia.
Berikutnya,
manusia dikelompokkam; Yahudi dengan Yahudi, Nasrani dengan Nasrani, orang
zalim dengan orang-orang zalim, dst.
Kemudian
datang az-Zhulmah (kegelapan). Allah jadikan suasana sangat gelap.
Lalu
manusia diperintahkan untuk jalan di atas Shirooth dalam kondisi gelap
tersebut. Orang-orang sangat butuh cahaya untuk lewat di atas Shirooth. Sebab
Shirooth tersebut ada kail yang mencabik-cabik dan menyeret manusia jatuh ke
Jahannam.
Semua
kelompok manusia selain orang-orang mukmin dan maunafik akan langsung jatuh ke
neraka Jahannam. Karena mereka tidak punya cahaya.
Hanya
orang-orang beriman dan munafik yang akan melewati Shirooth tersebut. Keduanya
dapat cahaya dari Allah.
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
“Mereka menipu Allah dan orang-orang yang
beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.”
(Surat Al-Baqarah, Ayat: 9)
يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ
“Pada hari orang-orang munafik laki-laki dan
perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami! Kami ingin
mengambil cahayamu.” (Kepada mereka) dikatakan, ”Kembalilah kamu ke belakang
dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu di antara mereka dipasang dinding
(pemisah) yang berpintu. Di sebelah dalam ada rahmat dan di luarnya hanya ada
azab.” (Surat Al-Hadid, Ayat: 13)
Orang-orang
mukmin yang selamat dari Shirooth akan ditempatkan di Qonthoroh, di sana segala
kebencian dan kecemburuan di hati akan dicabut oleh Allah. Baru kemudian mereka
dimasukkan ke dalam surga.
وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ
Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada tabir dan di atas A‘raf (tempat yang tertinggi) ada orang-orang yang saling mengenal, masing-masing dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, “Salamun ‘alaikum” (salam sejahtera bagimu). Mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera (masuk). (Surat Al-A’raf, Ayat: 46)
وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang zhalim itu.” (Surat Al-A’raf, Ayat: 47)
✍ Abu Ziyan Johan Saputra Halim

No comments:
Post a Comment