Segala hal yang tak nyaman yang dirasakan
oleh banyak orang itu disebabkan oleh larutnya diri ke dalam pikiran. Misalnya,
ada masalah kerjaan, lalu dipikirkan, maka akan terbawa suasana tak nyaman.
Ya,
segala masalah jika dipikirkan, maka akan jadi larut dalam pikiran. Saat larut,
yang terjadi adalah perasaannya tak nyaman. Lantas, bagaimana?
Ya sadari
saja. Mungkin tak banyak orang yang paham dengan kata menyadari. Dulu saya juga
tak paham saat baru belajar hal-hal seperti ini.
Apa itu
menyadari. Begini, menyadari itu, kita sadar bahwa kita sedang ada sesuatu yang
tak nyaman. Sadari saja kalau kita tak nyaman. Amati saja pikiran yang tak
nyaman itu. Amati saja perasaan yang tak mengenakkan hati itu.
Ya,
sekadar kita mengamati. “Oh, saya sedang tak nyaman. Oh, pikiran saya sedang
memikirkan masalah, oh masalah itu sedang muncul dalam pikiran, dst.”
Bukannya
malah larut dalam pikiran. Kalau larut, biasanya muncul pikiran-pikiran negatif
lainnya dan itu berdampak pada emosi negatif juga. Inilah yang sering kali
banyak orang lakukan.
Berbeda
kalau kita mengamati pikiran. Menyadari bahwa pikiran atau perasaan kita sedang
dalam kondisi demikian. Ini akan membuat diri kita netral.
Sadari
saja. Amati saja. Dan ini butuh latihan. Melatih diri. Berlatih untuk sadar,
berlatih mengamati pikiran dan perasaan.
Apakah
Saya bisa selalu mengamati pikiran? Jelas tidaklah. Lha wong pikiran saya juga
seperti Anda semua. Loncat sana, loncat sini. Lari ke sana lari ke sini.
Memang, itulah fitrahnya pikiran. Sukanya loncat-loncatan.
Makanya,
butuh berlatih. Terkadang Saya bisa, tapi sering juga lupa. Hehehe. Namanya
juga manusia. Tempatnya salah dan lupa.
Ah, yang
penting dilatih sajalah. Oke?

No comments:
Post a Comment